Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Pengikut

Quien cocina aquí:

Foto saya
nama lengkap saya liris pristi oktaviana saat ini saya masih duduk di bangku smk yaitu smkn 2 blitar.

Archivo del Blog

Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format

Jumat, 08 Oktober 2010

cerpen "JANJI BUKIT BINTANG"

Raja siang sedang melaksanakan tugasnya menghangatkan seluruh isi bumi. Karena keadaan bumi sedang pemanasan global rasa hangat itu terasa menyangat kulit Ranbel. Cowok berhidung mancung dan berbibir merah di tambah lagi kulitnya yang putih semakin menambah pesona cewek-cewek yang melihatnya. Namun sayang dengan pakaian yang kusuh dan kummel itu Ranbel seperti mutiara dalam debu. Pakaian yang si kenakannya seperti tidak pernah dilepaskan dari kulitnya. Bagaimana tidak ?? Ranbel hanyalah anak jalanan. Yang hidupnya bergantung pada gitar tua dan bis kota. Dari kedua benda itulah Ranbel bias bertahan hidup. Mungkin benar kata pepatah “Sekejam-kejamnya ibu tiri masih kejam ibu kota” buktinya belasan tahun Ranbel hidup dijalanan, terpontang-panting seperti segelintir bulu. Agaknya hidupnya tidak pernah berubah selalu dilingkari dengan lingkaran kemiskinan dan penderitaan. Tapi semua itu tidak membuat Ranbel patah semangat. Naik turun bis kota setiap harinya. Berharap keiklhasan para penumpang. Seperti hari ini adalah bis ke sepuluh yang Ranbel tumpangi untuk mengais rejeki, lewat suaranya yang merdu Ranbel pun bernyanyi sembari memetik dawai gitar.
“ Ya……penumpang sekalian lagu dari saya. Semoga selamat sampai tujuan dan jangan lupa periksa barang bawaan anda sebelum anda meninggalkan bus. Sekian dari saya Wasalamualaikum wr.wb. dan terima kasih”. Begitu pidato singkat dari Ranbel saat menutup lagunya. Dan seprti layaknya para pengamen lainnya, Ranbel pun mulai menyodorkan botol air mineral gelas kosong bermaksud untuk meminta imbalan atas jasanya yang sedikit menghibur. Namun sedang asik-asiknya Ranbel memungut biaya dari penumpang, Ranbel melihat ada sedikit keanehan. Kedua pasang mata Ranbel tertuju pada pria berjaket kulit hitam yang berdiri di dekat gadis SMA. Lagaknya orang itu hendak mencopet gadis belia itu. Hal itu bias dilihat dari gerak-geriknya yang dia-diam membuka kantong tas gadis itu. Tentunya di saat korban sedang lengah. Tentu saja hal itu tidak dapat di biarkan oleh Ranbel. Biar pun anak jalanan tapi Ranbel berhati bersih.
“Biiik !!! (tangan Ranbel menepuk bahu si pencopet) apa yang sedang kau lakukan?”
Tentu saja pertanyaan Ranbel menarik perhatian seluruh isi bus termasuk gadis belia yang cantik itu. Karna asiknya sudah diketahui akhirnya pria itu berbalik dan hendak berlari.
Terlambat!!! Nampaknya gadis itu mengetahui bahwa dirinya di copet dan dia pun bertriak
“copet…copet…tolong ada copet!!!” Hal itu membuat gempar seluruh isi bus. Dan berhambur mengejar si copet yang ketika itu berlari keluar bus saat bus berrhenti karena lampu merah. Tapi nasib seseorang tidak bias ditebak, pencopet itu tertangkap dan di hakimi masa. Kasian pencopet itu,sudah mencopet tidak berhasil dapat bonus pijat gratis lagi.
Melihat kejadian itu Ranbel yang diam karena tercengang melihat kejadian yang begitu singkat berubah menjadi Ranbel yang tidak di kenal, dia menjadi bijaksana. Hal itu terbukti saat Ranbel berusaha membubarkan masa yang sedang menghakimi pencopet itu. Sekian dari masa itu ada yang jengkel dengan Ranbel karena tidak dibiarkan membalas perbuatan pencopet itu. Dan sebagian masa hanya ikut-ikutan hanya diam dan pergi. Dan pencopet itu langsung lari.
“Hai…permisi…!!!” Suara halus lembut itu mengagetkan Ranbel yang sedang melamun.
“Eh…kamu…!! Jawab Ranbel gugub.
“Iya…Kenalin nama gue Leoni…” sambil menjulurkan tangannya bermaksud ingin berjabat tangan. Hal itu membuat Ranbel jadi tambah gugup, perasaannya gak karuan. Terus terang baru pertama kali ini ada gadis cantik sudi berjabat tangan dengannya.
“Gue Ranbel..”
“Ranbel…!!” Leoni haran karena namanya agak aneh kedengarannya.
“kenapa?? Nam ague aneh ya?? Sebenernnya nama gue Randy, karena gue anak jalanan, gak jelas asal-usulnya rada kaya gembel gitu,,,makanya gue di panggil Ranbel…Randy Gembel”
“Anak jalanan,,jadi loe gak punya tempat tinggal gitu??”
“Ceritanya panjang Len. Kapan-kapan aja ya gue certain ke loe. Sekarang udah sore, cepetan pulang ntar di cariin ortu loe.


Sejak sore itu Ranbel selalu teringat Leoni. Ranbel membayangkan seandainya dia bias menjadi sahabat Leoni. Tapi tiba-tiba terlintas pikiran bahwa dia tidak mungkin sahabatan dengan Leoni. Leoi begitu tinggi derajatnya dari pada dia. Dilihat dari penampilannya Leoni anak orang kaya. Tapi bagaimana mungkin anak orang kaya bias naik bus?? Ah nampaknya lamunan Ranbel berakhir karena dia ketiduran. Dia tidur di emperan toko dengan beralaskan Koran.
Ternyata Tuhan itu adil terhadap umatnya. Dia tidak mungkin membiarkan umatnya menangis dan menderita. Lewat garisan nasib yang telah di goreskn pada kehidupan manusia. Akhirnya Ranbel dan Leoni bertemu kembali di lampu merah.
“Sepertinya aku kenal dengan suara itu??” Guman Leoni dalam hati. “ah mungkin Cuma perasaan doing”.
Tapi lama kelamaan suara merdu yang sedang mengeluarkan syair nada anak jalanan itu semakin mendekat dan ketika Leoni membuka kaca mobil “hah…Ranbel!!!”
“Leoni…” Kata Ranbel
Tin…tin…suara klakson mobil deretan belakang seakan-akan bertriak-triak meminta mobil merah yang berada di deretan depan itu berjalan, kebetulan itu adalah mobil Leoni. Karena keadaan tidak mendukung, akhirnya sopir Leoni langsung tancap gas.
“Pak Bedor…Pak Bedor…berhenti dulu ya di depan” Teriak Leoni sembari menepuk-nepuk bahu Pak Bedor sopirnya.
“Apa non??Belati?? aduh non ngapain sih nyari belati kaya mau tawuran aja bawa belati”.
“aduh dasar!!!”
Leoni baru sdar kalau sopirnya kalau sopirnya mempunyai kelainan pendengarannya. Lantas Leoni mengambil kertas dan secepat mungkin Leoni menggoreskan penanya pada kertas itu.
“Oh..berhanti to, bilang dog non. Malah minta belati”. Jawab Pak Bedor setelah membaca kertas yang di sodorkan Leoni.
Mendengar jawaban dari sopirnya itu, Leoni pun menggerutu didalam hati. Karena tidak sampai hati untuk memarahinya. Tepat didepan halte bus, mobil Lepni berhenti dan dia pun bergegas berlari keluar mobil mencari Ranbel.
Kedua insan Tuhan itu pun melepas rasa rindu dengan saling memandang dan tersenyum.
“Leoni…” panggil Ranbel pelan. Namun Leoni tidak menjawab sepatah kata pun , dia hanya memandang Ranbel.
“Aku hanya ingin mengajak kamu ke suatu tempat yang indah banget”. Sambung Ranbel.
“Kemana Ran?”
“udahlah,tapi kamu gak usah bawa mobil. Kita jalan aja dan juga gak usah bawa dompet juga HP”
“Lantas?? Kalau ada apa-apa di jalan gimana?”
“Udahlah Len, aku ini dari bayi sampai segede gini hidup di jalanan” Jawab Ranbel meyakinkan.
Mendengar itu Leoni pun tidak bias berbuat apa-apa lagi. Dia segera melakukan apa yang disuruh sahabatnya itu.

Sudah hampir dua jam Leoni berjalan mengikuti Ranbel. Dalam perjalanan Leoni pun tidak pernah mengeluh sepatah kata pun. Hal itu terjadi karena Leoni sibuk memikirkan akan di bawa kemana dia oleh sahabatnya itu. Ranbel melihat wajah Leoni yang namapak kemerah-merahan karena kecapekan tersengat sinar matahari, keringatnya yang menetes membasahi bajunya, belum lagi bibir mungilnya yang dulu selalu basah kini menjadi kering dan pucat. Nampaknya Leoni sudah tidak kuat lagi untuk berjalan, mungkin hal itu karena Leoni tidak pernah berjalan kaki. Berbeda dengan Ranbel yang setiap harinya berjalan mondar-mandir di keramaian ibu kota. Dia masih Nampak segar bugar. Ranbel pun tidak sampai hati melihat Leoni, maka dia pun segera berjongkok di depan Leoni bermaksud akan menggendongnya. Tentu saja Leoni malu dan menolaknya, tetapi karena Ranbel terus mendesaknya akhirnya Leoni pun mau di gendongnya. Tidak bias di bayangkan jalanan yang berbatu di tambah lagi yang keadaannya menanjak, Ranbel harus mengangkat beban kurang lebih 45 kg. Tapi demi kecintaannya pada sahabatnya, Ranbel pun berusaha bertahan.
Hamparan luas di puncak gunung yang indah dan tepat di bawah pohon cemara. Randi berhanti dan menurunkan Leoni.
‘Ini tempat apa Ran?” Tanya Leoni.
“ini namanya Bukit Bintang”.
“Bukit Bintang???”
“Iya…dinamakan Bukit Bintang karena di saat malam hari kita bias melihat germelapnya bintang yang indah dan di tambah lagi banyak kunang-kunangnya. Pokoknya indah banget deh” ranbel bercerita banyak tentang Bukit bintang pada Leoni. Termasuk kesenangan Ranbel ke Bukit Bintang hanya untuk merenung bila ada masalah.
Tiba-tiba Ranbel membuka tas pinggangnya. Dia mengambil dua lembar kertas juga dua buah bolpoint. Melihat hal itu Leoni pun bertanya-tanya dalam hati. Dan Ranbel pun berkata “leoni…tuliskan isi hatimu pada kertas ini, tentang apa yang kamu raasakan terhadap aku. Begitu pula dengan aku. Tanpa banyak tanya Leoni segera menuruti keinginan sahabatnya.
Setalah keduanya selesai menulis surat. Kemudian Ranbel menaruh kedua surat itu ke dalam sebuah kotak yang ada di tas Ranbel lalu dikubur kotak itu tepat di bawah pohon cemara.
“Leoni…sebenarnya maksud dari semua ini aku pengen ngomong, mungkin dalam waktu dekat ini kita gak akan ketemu lagi”
“Loh!! kenapa Ran ?? apa kamu udah gak mau temenan lagi sama aku??’
“Bukan Len.. aku ingin pergi ke Kalimantan”
“Untuk apa??”
“Kemarin aku dapat kabar dari panti asuhanku bahwa orang tua ku sudah di ketemukan. Dan aku pun di beri alamatnya.”
“Panti asuhan??keluarga??Apa maksudnya Ran, aku gak ngerti!!”
“Sepuluh tahun yang lalu aku terpisahkan oleh keluargaku di terminal. Aku kehilangan ayah dan ibuku. Waktu aku masih berumur dua tahun. Akhirnya oleh orang yang menemukan ku, aku di bawa ke panti.”
“Kalau kamu memang anak panti kenapa kamu harus ngamen?”
“Aku berharap dengan aku ngamen di bus dan di jalanan aku dapat bertemu dengan keluargaku. Namun itu hanya harapan kosong. Belasan tahun aku ngamen tapi apa yang aku harapkan sia-sia. Tapi akhirnya panti itu dapat melacak keadaan ortu ku.”
“Jadi kamu mau pergi ninggalin aku dan persahabatan kita?”
“Gak selamanya lagi…aku gak lama. Dan hari ini, tanggal, waktu harus kita ingat-ingat karena satu tahun kedepan kita akan bertemu di waktu dan jam yang sama dengan hari ini.
Malam itu kedua sahabat sedang menikmati malam perpisahan dengan tangisan dan lagu merdu berjudul anak jalanan yang menjadi lagu khas dari Ranbel.


Waktupun berlalu begitu cepat tanpa terasa satu tahun pun telah berlalu. Sore itu Leoni berdiri di bawah pohon cemara. Dia menunggu Ranbel. Matanya berkaca-kaca nampaknya dia sudah tidak sabar menunggu sahabatnya.
Satu jam, dua jam, tiga jam sudah berlalu namun seseoran yang di tunggu-tunggu Leoni tidak nampak batang hidungnya. Karena sudah larut malam Leoni pun pulang dengan perasaan kecewa, sedih bercampur jadi satu.
Di tahun kedua keadaan masih tetap sama dengan tahun kemarin. Leoni masih menunggu sahabatnya. Namun harapan hanya tinggal harapan. Sahabat yang di nantinya tidak kunjung dating atau tidak pernah dating. Satu pun tidak ada yang tahu.
Kekuatan janji di Bukit Bintang itu membuat Leoni datang kembali di tahun yang ketiga, jam dan hari yang sama dengan kejadian dua tahun silam. Yang berbeda hanya lah keadaan Leoni, dia Nampak begitu pucat dan badannya begitu kurus. Selendang yang ada di kepalanya pun seakan member tahu kini rambut Leoni sudah hampir habis karena rontok. Sebenarnya apa yang terjadi pada Leoni???? Ternyata Leoni mengidap kanker otak stadium empat. Penyakit Leoni tidak bias disembuhkan. Hanya bias menunggu kapan Malaikat Jibril mau mengambilnya dan mengakhiri penderitaannya.
Sama juga dengan tahun-tahun sebelumnya Ranbel tidak dating menemui Leoni. Akhirnya Leoni pun pulang dengan perasaan sedih, kecewa karena merasa dibohongi.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Waktupun terus berjalan. Tanpa terasasudah tahun ke empat. Namun keanehan terjadi pada tahun ke empat ini karena Leoni tidak lagi berdiri di bawah pohon cemara. Mendadak Bukit Bintang menjadi sunyi sepi. Dari kejauhan Nampak seorang laki-laki sedang berjalan berjalan menuju pohon cemara. Ternyata laki-laki itu adalah Ranbel. Sesampainya di bawah pohon cemara yang tepat ditengah Bukit Bintang, mata Ranbel terbelalak kaget karena bukannya melihat Leoni tetapi sepasang batu nisan yang bertuliskan Leonita. Betapa kagetnya Ranbel ketika membaca tulisan yang terukir di batu nisan itu. Tanpa disadari badan Ranbel jadi melemah dan pandangan mulai gelap. Seketika itu, brukk… badan Ranbel terjatuh karena pingsan.
Selang lima belas menit Ranbel oun sadar dan dia pun terheran-heran karena saat membuka matanya ranbel berada di sebuah kamar yang inadh dimana di dinding dan atapnya di hiasi gambaran bintanb-bintang yang jika lampu kamar di matikan bintang itu bisa bersinar. Sekali lagi Ranbel terkagetkan karena tepat di pojok kamar tergantung bingkai foto yang di dalamnya terdapat foto seorang gadis yang cantik dengan rambut ikalnya. Agaknya Ranbel sudah taka sing lagi dengan foto itu karena gadis yang ada dalam foto itu tak lain adalah Leoni. Tanpa disadari seorang wanuta separuh baya berbadan gemuk sudah berdiri di samping Ranbel dan berkata “Leoni sudah tiada, dia sudah meninggal satu tahun yang lalu.”
“Meninggal tante…kenapa??”
“Dia mengidap kanker otak.”
Tanpa berkata apa-apa Ranbel pun nerlari menuju pohon cemara di Bukit Bintang itu tempat Leoni di makamkan. Di makam Leoni itu, Ranbel menumpahkan segala kesedihannya. Dia merasa sangat bersalah karena melalaikan janjinya. Dia bertriak-triak memanggil nama Leonid an meminta maaf. Namun nasi sudah menjadi bubur. Kini Leoni telah pergi untuk selamanya. Lagi-lagi wanita gemuk itu menghampiri Ranbel. Akan tetapi kali ini dia tidak berkata apa-apa. Hanya sebuah amplop yang berisikan surat dari Leoni untuk Ranbel. Yang isisnya

Randy, saat kamu membaca surat ini, aku sudah tak berada di sampingmu lagi. Mungkin aku memeng sudah mati tetapi kesetiaan ku sebagai seorang sahabat tidak akan pernah mati. Aku akan menunggumu di pintu surge demi persahabatan kita dan Janji Bukit Bintang.
Salam sayang
Leoni


By : Liris Viana

0 komentar:

Posting Komentar

 
 

Diseñado por: Compartidísimo
Scrapping elementos: Deliciouscraps©